
Pengembangan Diri10 Mar 2026
Pengembangan Diri
Seorang wirausahawan, itu dilahirkan atau dibentuk? Ini pertanyaan mendasar untuk mengawali pemahaman tentang kewirausahaan.
Seorang wirausahawan, itu dilahirkan atau dibentuk?
Ini pertanyaan yang mendasar, untuk mengawali pemahamannya.
Dari 1.000 orang akan terbelah menjadi dua pandangan:
- Yakin karena dilahirkan.
- Yakin karena harus dibentuk. Ternyata yang baik adalah yang dilahirkan dan juga dibentuk. Nah, karena faktor "dilahirkan" itu sering tidak kita ketahui, maka "dibentuk" menjadi pilihan UTAMA. Dibentuk artinya diberikan pembelajaran. Belajar yang terbaik adalah tentu dari PENGALAMAN. Nah, pengalaman ini ada 2 macam:
- Pengalaman diri sendiri.
- Pengalaman orang lain. Apa yang harus dipelajari? Tentu bagaimana bisa sukses, dan juga bagaimana bisa gagal. Ironisnya, memang ada wirausahawan yang gagal? Betul kan. Tetapi ada juga yang berhasil. (LEBIH BANYAK MANA YANG GAGAL DAN YANG BERHASIL?) Menjadi wirausaha, harus:
- Siap mental.
- Kemauan yang kuat.
- Mudah senyum.
- Mudah bergaul.
- Pandai mendengarkan.
- Punya kreativitas dan juga inovatif. Yang paling menarik itu: Pandai mendengarkan. Mengapa harus pandai mendengarkan? Dengan pandai mendengarkan, kita bisa memahami "need and want" dari orang yang berbicara terhadap kita. Nah setelah kita tahu, dengan susunan yang sudah terpilih, bisa kita jawab agar "sesuai keinginan kita". Ini kata kunci menariknya. Sebuah kisah... Seorang dosen menuliskan tugas di papan tulis, "Tugas terakhir. Tidak ada batas waktu. JADILAH ORANG YANG BAHAGIA! Saat kalian mulai mengerjakan tugas ini, tidak usah buru-buru mengerjakannya. Kalian bebas menggunakan waktu yang kalian miliki. Tetapi suatu hari, tolong kumpulkan padaku dan katakan, 'Aku sudah melakukannya, dan aku sudah bahagia.' Aku menunggu." (Bisa lewat email atau WA saja). Sebagai seorang pengajar, dosen tersebut tidak hanya mengajarkan persoalan akademis, namun ia juga mengajarkan bagaimana cara untuk dapat menjadi orang yang bahagia. Apapun posisi kita dan seberat apapun tantangannya, lakukanlah semua itu dengan cara menikmatinya. Ketika kita menikmatinya, maka tantangan di dalam tanggung jawab tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi kita. Orang yang selalu bersyukur dan menikmati pekerjaannya akan dengan mudah merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya. Berbeda dengan orang yang selalu mengeluh dengan pekerjaannya—bagi mereka, pekerjaan adalah sebuah siksaan. Jika demikian, hasilnya pun tidak akan maksimal. Bagaimana mungkin orang yang seperti itu akan bahagia? Buatlah diri kita bahagia melalui hidup yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, kerjakanlah apa yang menjadi bagian atau pekerjaan kita dengan ucapan syukur dan tidak bersungut-sungut, maka hidup kita akan bahagia. Nah para sahabatku, marilah mulai dengan yang paling sederhana. Ketika kita harus menyapu lantai rumah, kita tersenyum karena memang harus kita sapu, agar bersih dan kita menjadi enak dan nyaman. Ketika ada tugas dari kantor, dari dosen, atau dari guru, kerjakanlah dengan senyum. Pekerjaan dari kantor inilah yang memberi kehidupan, maka kerjakan dengan semangat demi kehidupan keluarga, bersyukur mempunyai pekerjaan ini. Tugas dari dosen/guru dikerjakan dengan senyum karena ini merupakan proses pembelajaran. Maka semangat dan sukacitalah, karena inilah jalan untuk mendapatkan ilmu dan gelar yang harus dilalui. Sepantasnya bersyukur dan TIDAK bersungut-sungut. Demikian indah semua jika dilakukan dengan sukacita. Apakah lalu TIDAK ada kesulitan? ADA. Kesulitan mungkin akan muncul, namun kita SUDAH siap. Setiap hari adalah tantangan yang harus siap kita terima. Hanya orang yang banyak mengalami tantangan kehidupanlah yang akhirnya paling tahan banting dan sanggup menghadapi badai sebesar apapun. Semoga. Tuhan Yesus Memberkati. Oleh: JB Djoko Suhono